Kecelakaan Kereta Api Terparah Indonesia! Makan Korban Hingga 156 Orang
- id.pinterest.com
Cianjur – Tragedi Bintaro menjadi salah satu kecelakaan kereta api paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
Peristiwa ini terjadi pada 19 Oktober 1987 dan merenggut 156 nyawa dalam sekejap mata.
Kecelakaan kereta api ini sebenarnya bisa dicegah jika sistem komunikasi berjalan baik.
Namun, kelalaian sistemik dan teknologi usang menjadi penyebab utama terjadinya tabrakan mematikan ini.
Banyak yang tidak tahu bahwa tragedi Bintaro dimulai dari kesalahan komunikasi sederhana.
Padahal, dengan sistem yang tepat, ratusan jiwa bisa diselamatkan pada pagi yang kelam itu.
Senin pagi, 19 Oktober 1987, dimulai seperti hari biasa di Jakarta.
Ribuan penumpang bersiap berangkat kerja menggunakan kereta ekonomi KA225 dari Rangkasbitung menuju Jakarta Kota.
Di jalur berbeda, kereta patas KA220 Merak juga melaju dari arah Tanah Abang.
Kedua kereta ini tidak menyadari bahwa mereka sedang menuju takdir yang sama.
Jalur Jakarta-Merak pada tahun 1980-an masih menggunakan sistem rel tunggal.
Artinya, hanya satu kereta yang bisa melintas dalam satu waktu dan arah.
Jika dua kereta berlawanan arah harus lewat, salah satu harus berhenti di stasiun.
Sistem ini sangat bergantung pada komunikasi yang tepat antar petugas stasiun.
Kesalahan Fatal di Stasiun Sudimara
Petugas sinyal bernama Suparman mengalami kebingungan komunikasi.
Informasi tentang posisi KA225 tidak jelas, namun ia tetap memberi izin KA220 untuk melaju.
Stasiun Kebayoran yang seharusnya memberikan konfirmasi tidak berhasil dihubungi.
Akibatnya, kedua kereta melaju di jalur yang sama menuju tabrakan mematikan.
Detik-Detik Mengerikan di Pondok Betung
Tepat pukul 06.15 WIB, kedua kereta bertabrakan di wilayah Pondok Betung Bintaro.
Tabrakan terjadi dengan kecepatan tinggi sekitar 50-70 km/jam tanpa sempat mengerem.
Suara tabrakan terdengar hingga radius 2 kilometer. Warga sekitar mengira terjadi gempa atau ledakan gas karena dentuman yang sangat keras.
Proses Evakuasi
Evakuasi korban berjalan sangat lambat karena keterbatasan peralatan. Warga sekitar menjadi tim evakuasi pertama dengan alat seadanya.
Rumah sakit kewalahan menampung korban yang begitu banyak.
Banyak korban meninggal sebelum mendapat pertolongan medis yang memadai.