Armada Amerika Merapat ke Karibia, Venezuela Bersiap Hadapi Ancaman Invasi
Cianjur – Donald Trump resmi mengirim armada perang Amerika ke perairan Venezuela dengan kekuatan penuh. Kapal perusak, skuadron amfibi, dan ribuan marinir bersiap di garis depan menghadapi rezim Maduro.
Ketegangan ini merupakan hasil dari konflik panjang Amerika dengan Venezuela. Negara dengan cadangan minyak terbesar dunia ini dipimpin rezim yang dianggap musuh Amerika Serikat.
Venezuela sudah lama menjadi duri bagi kebijakan luar negeri Amerika di kawasan Amerika Latin. Dari sanksi ekonomi hingga upaya kudeta, semua cara sudah dicoba untuk menggulingkan rezim Maduro.
Kini atas perintah langsung Trump, kapal perang Amerika merapat ke Karibia dengan misi rahasia. Pertanyaan besar pun muncul: apakah ini sekedar pamer kekuatan atau awal perang baru?
Latar Belakang Konflik Venezuela
Krisis Venezuela bukan kisah baru yang tiba-tiba muncul dalam hubungan internasional. Sejak awal 2010-an, negara dengan cadangan minyak terbesar dunia ini berubah jadi potret kehancuran ekonomi.
Inflasi melonjak jutaan persen dan listrik padam berhari-hari di seluruh negeri. Jutaan warga Venezuela terpaksa lari ke luar negeri demi bertahan hidup dari krisis berkepanjangan.
Pada periode pertama Trump tahun 2017, ancaman militer pertama kali ditiup dengan keras. Trump bahkan terang-terangan menyatakan tidak akan menyingkirkan opsi militer terhadap Venezuela yang dipimpin Maduro.
Bagi Venezuela, ucaparan presiden Amerika bukanlah angin lalu yang bisa diabaikan. Mereka tahu negara Amerika Latin pernah jatuh satu persatu akibat operasi militer Amerika Serikat.
Strategi Baru: Perang Melawan Narkoba
Trump menyadari menggulingkan Maduro dengan alasan demokrasi tidak akan laku di mata dunia. Irak dan Afghanistan sudah menjadi luka menganga yang membuat rakyat Amerika muak perang panjang.
Amerika pun mencari jalan lain dengan menargetkan kartel narkoba Venezuela sebagai dalih utama. Di mata publik, Venezuela bukan hanya negara krisis tapi juga markas geng kriminal paling brutal.
Pemerintah Amerika resmi menetapkan kartel de Los sebagai organisasi teroris internasional yang berbahaya. Lebih jauh lagi, Nicolas Maduro sendiri dituduh sebagai pemimpin kartel dengan hadiah buruan 50 juta dolar.