KF-21 Boramae Indonesia Terancam Diterima Tanpa Rudal Hycore!
- Youtube
Cianjur – Kabar mengejutkan datang dari program pengembangan KF-21 Boramae yang Indonesia lakukan bersama Korea Selatan. Jet tempur generasi 4,5 ini terancam tidak dilengkapi rudal sebagaimana armada untuk negara asalnya.
Meski begitu, Indonesia masih berpeluang memiliki rudal secanggih Hycore dengan membelinya terpisah dari unit KF-21 Boramae. Namun kondisi ini tentu menambah beban biaya pengadaan jet tempur canggih untuk TNI AU.
Krisis Pasokan Rudal Korea Selatan
Pengiriman 40 unit KF-21 Boramae untuk Angkatan Udara Korea Selatan mengalami kendala serius terkait pasokan rudal. Dirangkum dari channel YouTube Korps Militer, Korea Selatan baru menandatangani kontrak pengadaan 100 unit rudal jarak jauh dan 50 unit rudal jarak pendek yang berlaku mulai 2028.
Padahal setiap unit KF-21 Boramae seharusnya dilengkapi 6 unit rudal udara ke udara sesuai spesifikasi teknis dasar. Artinya setiap pesawat hanya akan ditopang 3-4 unit rudal saja, bahkan untuk produksi massal 2026 tidak akan ada rudal sama sekali.
Ancaman Bagi Indonesia
Komite Pertahanan Majelis Nasional Korea, Baek Seonhae, menyampaikan bahwa pesawat tempur produksi massal tidak akan mampu tempur tanpa rudal. Konsekuensinya, KF-21 Boramae yang akan digunakan TNI AU terancam tidak dilengkapi rudal meskipun senjata ini sangat penting.
Kondisi geografis Indonesia dengan lautan lebih luas dari daratan dan lokasi strategis seperti Selat Malaka membutuhkan kesiapan tempur maksimal. Faktor lonjakan harga rudal hingga 3,5 miliar won per unit sejak konflik Ukraina-Rusia menjadi penyebab pengurangan pesanan hingga seperenam dari 900 unit.
Solusi Rudal Hycore
Meski KF-21 Boramae diterima tanpa rudal, TNI AU bisa melakukan integrasi senjata melalui pembelian terpisah seperti:
1. Rudal Hycore - Rudal jelajah hipersonik dengan berat 2,4 ton dan panjang 8,7 meter yang melaju maksimum Mach 6,2.
2. Platform Fleksibel - Tidak hanya dari udara, Hycore bisa diluncurkan melalui platform darat dan laut untuk pertahanan maksimal.
3. Teknologi Dua Tahap - Menggunakan roket bahan bakar dua tahap untuk mencapai kecepatan hipersonik yang dibutuhkan.
Pembayaran dan Masa Depan KF-21
Indonesia sebagai mitra proyek sejak 2016 semula diwajibkan membayar 1,6 triliun won namun baru terlunasi 400 miliar won. Setelah kesepakatan di Indo Defence 2024, DAPA setuju mengurangi kewajiban menjadi 600 miliar won dengan sisa 200 miliar won yang jatuh tempo diperpanjang hingga 2034.