Kehidupan Ekstrem di Atas Air Kotor Makoko, Bikin Kita Bersyukur!
- YouTube
Cianjur – Makoko di Lagos, Nigeria sering disebut "Venesia dari Afrika" karena lokasinya di atas air.
Namun, julukan ini sangat kontras dengan kondisi sebenarnya yang memprihatinkan.
Pemukiman ini terletak di tepi Samudra Atlantik dengan air laguna yang menghitam dan berbau menyengat.
Limbah dan sampah plastik mencemari perairan, menciptakan lingkungan yang tidak sehat.
Makoko dihuni sekitar 150.000 hingga 250.000 jiwa tanpa catatan sensus resmi.
Sebagian besar penduduk bergantung pada sektor penangkapan ikan untuk bertahan hidup.
Rumah Panggung di Atas Air Kotor
Kehidupan di Makoko benar-benar bergantung pada air meski kondisinya sangat memprihatinkan.
Rumah-rumah panggung dibangun dari kayu dan ditancapkan ke dasar air yang tercemar.
Setiap rumah biasanya dihuni 6 hingga 10 orang dengan perahu sebagai satu-satunya transportasi.
Anak-anak mulai belajar mendayung sejak usia 5 tahun untuk bisa bertahan hidup.
Tidak Ada Fasilitas Dasar
Makoko sama sekali tidak memiliki infrastruktur seperti air bersih, listrik, atau pembuangan limbah.
Kondisi ini membuat warga rentan terhadap berbagai masalah kesehatan yang serius.
Untuk mendapatkan air minum bersih, warga harus membelinya dari vendor dengan harga mahal.
Pemerintah setempat menganggap kawasan ini ilegal sehingga tidak menyediakan fasilitas apapun.
Sekolah Terapung dari Tong Plastik
Satu hal menarik di Makoko adalah sekolah terapung yang dibangun dari tong plastik bekas.
Sekolah ini mampu menampung 100 siswa dan menggunakan panel surya untuk tenaga listrik.
Fasilitas pendidikan ini memberikan harapan bagi anak-anak kurang beruntung di pemukiman tersebut.
Meski sederhana, sekolah ini menjadi simbol perjuangan melawan keterbatasan.
Ekonomi Berbasis Ikan
Aktivitas sehari-hari warga Makoko adalah menangkap ikan dan mengasapnya untuk dijual.
Banyak wanita terlibat dalam proses pengasapan ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Namun, pencemaran air akibat limbah dan sampah plastik mengancam kelangsungan mata pencaharian mereka.
Kurangnya sistem pengelolaan sampah memperburuk kondisi lingkungan hidup.
Meski banyak wisatawan tertarik berkunjung, warga Makoko sering curiga dan menganggap mereka mata-mata pemerintah.
Kekhawatiran akan penggusuran membuat mereka waspada terhadap orang asing.