W.S. Rendra, Kisah Sastrawan Nyentrik yang Dijuluki Burung Merak Karena Hasil Karyanya!
- pinterest.com
Cianjur – Indonesia punya banyak sastrawan hebat. Tapi kisah W.S. Rendra jelas nggak biasa. Gaya dan karyanya begitu kuat, sampai dijuluki si Burung Merak.
W.S. Rendra lahir di Solo, 7 November 1935. Ia dikenal sebagai penyair yang ekspresif, dramawan, hingga sutradara teater. Sastrawan ini benar-benar total dalam dunia seni.
Bukan cuma nulis, ia juga tampil beda saat baca puisi. Bajunya nyentrik, gaya panggungnya penuh energi. Nggak heran dia begitu dikenal, bahkan sampai ke luar negeri.
1. Karya Puisi W.S. Rendra yang Menggema ke Dunia Internasional
Karya Rendra nggak cuma untuk orang Indonesia. Puisinya diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Rusia, dan lainnya. Gaya bahasanya sederhana tapi maknanya dalam.
Beberapa puisinya yang terkenal yaitu “Mazmur Mawar”, “Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang”, dan “Sajak Orang Lapar”. Temanya beragam, dari cinta sampai kritik sosial.
2. Sastrawan Penuh Penghargaan, Karyanya Selalu Dikenang
Selama hidupnya, Rendra dapat banyak penghargaan. Mulai dari Anugerah Seni Republik Indonesia sampai SEA Write Award 1996.
Ia juga mendirikan Bengkel Teater, tempat belajar para seniman muda. Lewat pementasan teater, ia menyuarakan keresahan dan kritik sosial yang tajam.
3. Kisah Sastrawan yang Tak Takut Bersuara Lantang Lewat Sastra
Rendra bukan cuma seniman. Ia juga aktivis lewat puisi. Banyak puisinya sempat dicekal karena terlalu kritis terhadap keadaan.
Tapi justru karena itu, namanya makin dihormati. Ia berani menulis apa yang banyak orang pikirkan, tapi tak mampu sampaikan.
4. Perjalanan Terakhir Si Burung Merak yang Selalu Diingat
W.S. Rendra wafat di usia 73 tahun pada 6 Agustus 2009. Tapi karyanya tetap dibaca, puisinya tetap dibicarakan, bahkan dipelajari di sekolah dan kampus.
Ia meninggalkan warisan besar bagi dunia sastra Indonesia. Kisahnya jadi inspirasi bagi sastrawan muda yang ingin bersuara lewat kata.
Kisah W.S. Rendra bukan sekadar cerita seorang penyair. Ia adalah simbol dari keberanian, kebebasan, dan ketulusan dalam berkarya lewat sastra.