Kapal Induk Terbesar Inggris HMS Queen Elizabeth yang Hampir Bikin Inggris Merana
- Pinterest.com
Cianjur – Kapal induk HMS Queen Elizabeth jadi simbol kekuatan maritim Inggris yang kontroversial banget. Proyek ambisius ini dimulai dengan niat mulia tapi berakhir dengan perdebatan panjang.
Sejak awal abad ke-20, Angkatan Laut Kerajaan Inggris udah ngoperasiin pesawat berbasis kapal laut. Hampir 100 tahun beroperasi, muncul perdebatan sengit soal masa depan kapal induk mereka.
Sebagian pihak bilang era kapal induk udah berakhir karena terlalu kompleks dan mahal. Kelompok lain yakin penerbangan angkatan laut itu elemen krusial buat proyeksi kekuatan militer.
Pengalaman Perang Falklands jadi pengingat penting gimana kapal induk bisa menentukan hasil konflik. Akhirnya diputuskan untuk bangun dua kapal induk baru sebagai pengganti kelas Invincible yang udah tua.
1. Dilema Desain yang Bikin Pusing
Desain kapal induk baru langsung ngadepin dilema fundamental soal sistem peluncuran pesawat. Ada dua pilihan utama yang bikin pusing para ahli.
Pilihan pertama pakai skema STOVL di mana pesawat lepas landas pendek dan mendarat vertikal. Sistem ini bikin kapal lebih ringkas tanpa peralatan kompleks kayak katapel.
Alternatif lainnya sistem CATOBAR dengan katapel untuk peluncuran dan kabel penangkap untuk pendaratan. Skema ini jauh lebih efisien dan memungkinkan berbagai jenis pesawat beroperasi.
Masalahnya, sistem CATOBAR butuh kapal super gede dengan peralatan khusus yang mahal banget. Angkatan Laut Inggris pengen dua kapal tapi nggak punya anggaran kayak Amerika atau China.
2. Krisis Ekonomi Bikin Anggaran Membengkak
Argumen finansial yang jadi alasan pilih STOVL langsung runtuh pas estimasi biaya meningkat. Biaya awal 3,9 miliar pound sterling terus naik dan naik.
Krisis ekonomi 2008 bikin keterlambatan yang membengkakkan anggaran sampai 5,9 miliar pound sterling. Situasi ini buka kembali perdebatan dengan intensitas lebih tinggi.
Kritikus nyerang dengan argumen bahwa Angkatan Laut akan terima dua kapal induk dengan fungsi terpotong. Ada tuntutan buat konversi kapal, pasang katapel dan arresting gear, plus beli F-35C yang lebih efektif.
Opsi kedua adalah batalin pembangunan Prince of Wales buat stop pemborosan uang. Tapi kalkulasi tunjukin bahwa konversi atau pembatalan sama-sama mahal banget.