Indonesia Beli 42 Unit Jet Tempur J10 China, Apakah Keputusan Tepat?
- Youtube
Cianjur – Indonesia resmi berencana membeli 42 unit jet tempur Chengdu J10 dari Tiongkok. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengumumkan rencana pembelian ini akan diselesaikan dalam waktu dekat.
Keputusan ini muncul di tengah kebutuhan mendesak modernisasi armada udara TNI AU. Jet tempur F-16 dan Sukhoi Su-27/30 milik Indonesia sudah melewati masa kejayaannya dan butuh pengganti.
Kedaulatan udara Indonesia tidak bisa dijaga dengan armada tua yang sudah usang. Sementara negara tetangga seperti Australia, Singapura, dan Malaysia sudah memakai teknologi generasi terbaru.
TNI AU membutuhkan sekitar 300 jet tempur demi menjaga ruang udara di tengah meningkatnya tensi geopolitik Indo Pasifik. Modernisasi besar-besaran untuk menghadirkan pesawat generasi keempat dan 4,5 menjadi prioritas menuju 2035.
Awal 2024, Beijing menawarkan J10 kepada Indonesia sebagai pengganti F-16 lama dengan harga 50 juta dolar AS per unit. Harga ini setengah dari harga Rafale yang jauh lebih mahal untuk anggaran pertahanan nasional.
Dilansir dari channel YouTube Oto Populer ID, Menteri Keuangan Suahasil Nazara sudah memberikan lampu hijau untuk pembelian ini. Pemerintah menyiapkan anggaran 9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 146 triliun untuk mengakuisisi 42 unit J10.
Skeptisisme terhadap kemampuan J10C berubah total setelah kejadian Mei 2025 di perbatasan Kashmir. J10C milik Angkatan Udara Pakistan dilaporkan berhasil menembak jatuh enam pesawat India termasuk Rafale.
Dua pejabat Amerika Serikat turut mengonfirmasi bahwa rudal udara ke udara J10C memang menjatuhkan Rafale F3R varian paling mutakhir India. Sejak momen itu, J10C tidak lagi dianggap sekadar alat propaganda militer Beijing.
Indonesia kabarnya akan membeli varian J10 BD, bukan J10C seperti milik Pakistan. Perbedaan kedua varian ini terletak pada sistem radar dan integrasi persenjataan yang cukup signifikan.
J10C Pakistan menggunakan radar KLJ-7A AESA dengan jangkauan lebih dari 300 km untuk mendeteksi target. Sebaliknya, J10 BD memakai radar AESA versi sederhana dengan jangkauan dan sensitivitas lebih terbatas.
Pakistan mengoperasikan J10C bersama pesawat AEW&C yang berperan sebagai mata di langit. Indonesia belum memiliki AEW&C aktif sehingga armada J10 tidak bisa memaksimalkan sensor dan radar secara optimal.