Presiden Trump Umumkan Jet Tempur F-55 Generasi Kelima Plus untuk Dominasi Udara!
- Youtube
Cianjur – Presiden Donald Trump sepenuhnya mendukung ide besar ini dengan mengungkap kejutan global yang menggemparkan dunia.
F-55 adalah jet tempur generasi kelima plus yang dirancang beroperasi berdampingan dengan pesawat generasi keenam terbaru Angkatan Udara AS yaitu Boeing F-47.
Namun satu pertanyaan kritis tetap ada, mengapa AS memerlukan jet tempur generasi kelima plus untuk dominasi udara. Jawabannya dimulai dari konfrontasi antara F-35 Lightning II generasi kelima dengan salah satu milisi paling gigih di planet ini yaitu Houthi.
Lockheed Martin F-35 Lightning II adalah jet tempur siluman cuaca segala musim bermesin tunggal dengan kursi satu pilot.
Dirangkum dari channel YouTube Tech Of War, F-35 dirancang untuk misi dominasi udara, serangan presisi, serta intelijen, pengawasan, dan pengintaian yang kompleks.
F-35 hadir dalam tiga versi yaitu F-35A dengan lepas landas konvensional, F-35B mampu lepas landas pendek dan pendaratan vertikal, serta F-35C berbasis kapal induk.
Setiap jet berharga sekitar 100 juta dolar sedangkan program keseluruhan melebihi 428 miliar dolar menjadikannya sistem senjata termahal dalam sejarah militer.
Kelemahan yang Terungkap di Yemen
Meski teknologi canggih, misi terbaru melawan pasukan Houthi yang didukung Iran di Yemen mengungkap kelemahan mengejutkan dari F-35.
Houthi menggunakan campuran sistem pertahanan udara pasokan Iran dan improvisasi untuk menantang operasi AS dan Israel di Laut Merah dengan efektif.
Arsenal mereka mencakup SAM era Soviet yang dimodifikasi seperti SA-2 dan SA-6 yang ditingkatkan dengan sistem panduan Iran.
Sistem pertahanan udara ini menggunakan sensor inframerah pasif yang dapat melewati sistem perang elektronik F-35 yang dirancang mendeteksi sinyal radar aktif.
Meski primitif menurut standar hari ini, pertahanan udara ini terbukti sangat efektif dengan menghancurkan setidaknya 18 drone MQ-9 Reaper Amerika.
Setiap Reaper membawa harga sekitar 30 juta dolar dan sistem Houthi telah meningkatkan ancaman dengan menargetkan jet tempur berawak juga.
Selama Operasi Rough Rider yang dimulai 15 Maret 2025 menargetkan lebih dari 1.000 posisi Houthi, satu F-35 nyaris tertembak rudal SAM.