Jet Tempur Siluman J-20S China Dua Kursi Bisa Kendalikan Armada Drone Tempur!
- Youtube
Cianjur – China baru saja mengungkap sesuatu yang membuat pejabat Pentagon kehilangan tidur dengan teknologi mengejutkan dunia. J-20S bukan sekadar jet tempur biasa melainkan jet tempur siluman dua kursi pertama di dunia yang sudah terbang dengan misi operasional.
Pesawat ini memiliki kemampuan yang secara langsung menantang semua yang kita ketahui tentang supremasi udara selama ini.
Sementara F-22 dan F-35 Amerika telah mendominasi langit selama beberapa dekade, pesawat China baru ini bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan kedua jet tempur tersebut.
J-20S dapat mengendalikan seluruh armada drone tempur sambil tetap benar-benar tak terlihat oleh radar musuh dengan teknologi canggih.
Dirangkum dari channel YouTube Jet Force, angka-angkanya mengejutkan dan implikasinya bahkan lebih mengkhawatirkan bagi dominasi udara Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik.
J-20S mewakili tantangan paling berani China terhadap dominasi udara Amerika hingga saat ini dengan teknologi revolusioner. Yang membuat jet tempur ini sangat berbahaya bukan hanya kemampuan silumannya atau mesin canggih tetapi apa yang bisa dilakukan kursi kedua itu.
Ancaman Langsung terhadap F-22 Raptor
J-20S menimbulkan ancaman spesifik terhadap F-22 Raptor Amerika yang merupakan jet tempur superioritas udara paling canggih di dunia.
F-22 dirancang untuk mendominasi pertempuran satu lawan satu menggunakan siluman superior dan sensor canggih namun J-20S mengubah aturan pertempuran sepenuhnya.
Masalahnya adalah sementara F-22 unggul dalam pertempuran jarak jauh melawan target tunggal, J-20S dapat berkoordinasi dengan beberapa drone wingman secara bersamaan.
Ketika pilot F-22 mengira sedang menghadapi satu pesawat musuh, dia sebenarnya menghadapi serangan terkoordinasi dari hingga lima platform tempur sekaligus.
Satu J-20S berawak mengendalikan empat drone tempur tanpa awak dalam formasi mematikan yang terkoordinasi sempurna dengan presisi tinggi.
Keunggulan F-22 selalu menjadi kemampuannya untuk melihat lebih dulu dan menembak lebih dulu namun insinyur China mempelajari kemampuan ini dan mengembangkan tindakan penanggulangan efektif.
J-20S menggunakan drone wingman sebagai pengintai yang dapat dikorbankan untuk memaksa pilot F-22 mengungkapkan posisi mereka dengan menembak platform tanpa awak.