Pentagon Investasi $10 Miliar untuk Upgrade F-22 Raptor dengan AI dan Rudal AIM-260!
- Youtube
Cianjur – Bayangkan menjadi pilot tempur pada tahun 2005 ketika Anda melangkah ke kokpit sesuatu yang tidak hanya terasa seperti masa depan tetapi benar-benar adalah masa depan itu sendiri.
F-22 Raptor mampu mendeteksi musuh di radar dari jarak 150 mil jauhnya tetapi musuh tidak bisa melihatnya sampai rudal melesat menuju mereka dengan kecepatan supersonik.
Selama hampir dua dekade, mesin ini mendominasi langit bukan karena memiliki mesin paling kuat atau muatan terbesar melainkan karena sesuatu yang lebih fundamental.
Pesawat ini bisa melihat tanpa terlihat yang memberikan keunggulan psikologis dan taktis luar biasa di medan pertempuran udara modern yang semakin kompleks.
Pilot demi pilot yang bertransisi ke F-22 menggambarkan sensasi yang sama yaitu terbang dalam dimensi di mana tidak ada yang bisa menyentuh Anda.
Kapten James Mitchell mengatakan dalam wawancara eksklusif Angkatan Udara bahwa ketika Anda di kokpit itu, Anda tidak terbang di atas wilayah musuh melainkan terbang melalui dunia mereka secara tak terlihat karena mereka tidak bisa menargetkan apa yang tidak bisa mereka lihat dengan radar konvensional.
Dirangkum dari channel YouTube Crash Course Aviation, sesuatu yang meresahkan mulai terjadi di ruang perang Pentagon dengan laporan intelijen berdatangan.
China telah mengerahkan J-20 sebagai pesawat siluman mereka sendiri sementara Rusia meluncurkan sistem pertahanan udara S-500, rudal hipersonik, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah jaringan radar terdistribusi yang dirancang khusus untuk memburu pesawat siluman dengan sistem redundan yang bisa melihat menembus teknologi siluman.
Program Phoenix Pentagon
Pada 2021, inisiatif rahasia bernama Program Phoenix dimulai sebagai perombakan radikal kemampuan F-22 tanpa mendesain ulang jet sepenuhnya dengan biaya lebih efisien.
Strategi memiliki tiga pilar utama yaitu pertama memperbarui suite avionik sebagai otak pesawat dengan sistem sensor dan daya komputasi yang serius untuk menghadapi ancaman modern.
Kedua mengintegrasikan senjata baru karena jet yang dirancang untuk membawa rudal dari era berbeda memerlukan akses ke sistem udara-ke-udara terbaru yang lebih mematikan.
Ketiga dan paling kontroversial adalah memperkenalkan integrasi machine learning dan AI yang memungkinkan F-22 beroperasi dengan swarm otonom untuk memprediksi pergerakan musuh dan membuat keputusan taktis dalam sepersekian detik yang krusial.