Senjata Ini Lebih Mematikan dari Bom Nuklir! Hilangkan Nyawa 60 Persen Korban Perang
- id.pinterest.com
Cianjur – Berbicara soal senjata perang, banyak orang langsung membayangkan bom nuklir atau rudal canggih. Padahal, ada satu jenis senjata yang sejak dulu hingga sekarang menjadi pembunuh paling efektif di medan tempur. Namanya adalah artileri, senjata yang mencakup meriam, howitzer, dan mortir.
Dari Perang Dunia I hingga konflik modern di Ukraina, artileri selalu menjadi penyebab utama kematian di medan perang. Ledakannya yang dahsyat mampu menghancurkan area luas sekaligus. Wajar jika artileri dijuluki sebagai "The King of Battle" atau Raja Pertempuran.
Lantas, apa yang membuat artileri begitu mematikan? Mari kita telusuri perjalanan panjang senjata ini dalam sejarah peperangan manusia.
Artileri di Perang Dunia I
Perang Dunia I menjadi saksi kekuatan mengerikan artileri. Sekitar 60% korban tewas disebabkan oleh tembakan senjata ini. Dari total 8 juta kematian di medan perang, sekitar 4,8 juta di antaranya adalah korban artileri.
Tembakan artileri menyebabkan ledakan langsung, pecahan peluru tajam, hingga reruntuhan bangunan yang menimpa tentara. Kondisi perang parit yang statis membuat artileri menjadi penentu utama jalannya pertempuran. Senjata ini benar-benar mendominasi medan tempur Eropa saat itu.
Artileri di Perang Dunia II
Fenomena serupa terulang pada Perang Dunia II. Persentase korban akibat artileri tetap tinggi, mencapai 60%, terutama di medan Eropa dan Mediterania. Artileri kembali membuktikan dirinya sebagai senjata paling efektif membunuh manusia.
Baik pasukan Sekutu maupun Poros sama-sama mengandalkan kekuatan tembakan jarak jauh ini. Teknologi artileri juga berkembang pesat selama periode ini. Daya hancurnya semakin besar dan jangkauannya semakin jauh.
Dominasi Artileri Sebelum Abad ke-20
Sebelum kedua perang dunia, artileri sudah berperan besar dalam sejarah militer. Pada masa 1770–1850, separuh korban perang di Eropa tewas akibat artileri. Namun posisinya sempat digeser oleh senjata api ringan pada pertengahan abad ke-19.
Peningkatan akurasi dan kecepatan tembakan senjata ringan membuat mereka lebih populer. Namun ketika perang berubah menjadi perang parit di PD I, artileri kembali merajai medan tempur. Julukan "Raja Pertempuran" kembali disandangnya dengan pantas.