Amerika Kembangkan Jet Tempur F-36 Kingsnake dengan Komponen Cetak 3D untuk Ganti F-16!
- Youtube
Cianjur – Maret 2011, pengumuman mengejutkan mengguncang media global tentang jet tempur baru bernama F-36 Kingsnake. Apa yang membuat pesawat ini begitu luar biasa dan berbeda dari jet tempur konvensional?
Menurut laporan, F-36 diharapkan gantikan seluruh armada F-16 di militer AS pada 2030. Tapi itu bukan bagian paling menakjubkan dari proyek ambisius ini.
Dirangkum dari channel YouTube Tech Of War, terobosan sebenarnya terletak pada mayoritas komponen jet dibuat menggunakan teknologi cetak 3D. Ini langkah revolusioner dalam rekayasa aerospace yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
F-36 Kingsnake dirancang sebagai jet tempur berbiaya efektif untuk menggantikan F-16 yang sudah bertugas lebih 40 tahun. Dengan pendekatan pragmatis yang mengakui keterbatasan anggaran dan kebutuhan akan pesawat kerja keras praktis untuk melengkapi aset kelas atas.
Latar Belakang Program ATF
Juni 1982, Operasi Mole Cricket 19 terjadi saat Angkatan Udara Israel terbangkan F-15 dan F-16 capai kemenangan memukau. Jatuhkan lebih 80 pesawat Suriah tanpa kehilangan satu jet pun sambil hancurkan hampir seluruh jaringan rudal pertahanan udara Suriah.
Setelah pertempuran ini, F-15 dan F-16 cepat dapat ketenaran dan jadi komoditas panas pasar senjata global. Kampanye udara ini perkuat keyakinan militer AS tentang pentingnya kritis jet tempur superioritas udara untuk dominasi.
Sejak saat itu, militer AS mulai cari kontraktor pertahanan besar untuk kembangkan jet tempur lebih canggih. Tujuannya gantikan F-15 dan F-16 jadi pesawat utama berikutnya dalam armada Angkatan Udara dengan teknologi mutakhir.
Program ini resmi dinamai Advanced Tactical Fighter (ATF) dan Oktober 1997 jet tempur generasi kelima pertama F-22 Raptor diungkap. Penerbangan perdana sebenarnya terjadi September 1997 dengan semua metrik kinerja berhasil dipenuhi dengan sempurna.
Masalah Biaya F-22 dan F-35
Rencana awal Angkatan Udara ke Kongres ingin beli 750 F-22 untuk gantikan seluruh armada F-15 hadapi oposisi kuat. Angkatan Udara dipaksa kurangi pesanan dari 750 jadi 648 jet tapi proposal tetap tidak disetujui Kongres.
Kongres rekomendasikan Angkatan Udara akuisisi jumlah lebih kecil dulu untuk uji efektivitas sebelum putuskan investasi lebih lanjut. Setelah negosiasi panjang, 2003 akhirnya capai kesepakatan untuk beli 227 F-22 dengan persetujuan pendanaan dari Kongres.