Tanpa Jendela dan GPS, Bagaimana Kapal Selam Tidak Tersesat di Lautan Gelap?
- Youtube
Cianjur – Kapal selam militer bergerak dalam kegelapan total tanpa jendela untuk melihat ke luar. Dinding baja tebal menahan tekanan air dalam, sementara kru di dalamnya tak punya akses visual sama sekali ke dunia luar.
Sinyal GPS satelit tidak bisa menembus kedalaman lautan, jadi kapal selam tidak bisa mengandalkan GPS untuk navigasi. Metode navigasi kuno seperti melihat benda langit jelas tidak mungkin dilakukan di bawah air yang gelap gulita.
Dirangkum dari channel YouTube Lycma Mil-Tech, kapal selam menggunakan metode khusus untuk navigasi. Sonar aktif tidak bisa sembarangan dinyalakan karena gelombang suaranya mudah dideteksi musuh, seperti tentara menyelinap sambil memutar musik kencang.
Pertanyaannya, bagaimana kapal selam bisa tahu arahnya tanpa melihat dan tanpa GPS? Bagaimana mereka tidak tersesat meski menempuh ratusan kilometer di bawah air yang gelap?
Metode Dead Reckoning
Kapal selam bernavigasi dengan menghitung posisi saat ini berdasarkan posisi yang sudah diketahui sebelumnya. Metode ini dikenal sebagai Dead Reckoning atau perhitungan navigasi berbasis pergerakan.
Contoh sederhananya, kapal selam berangkat dari titik A pukul 10.00 pagi dengan kecepatan konstan 20 knot ke arah timur. Pada pukul 10.15, posisi kapal selam bisa dihitung berada 5 mil laut atau 9,26 km di timur titik A.
Inertial Navigation System (INS)
Karena pergerakan kapal selam sangat kompleks dalam 3 dimensi, dibutuhkan perangkat khusus untuk menghitung posisinya. Kapal selam menggunakan Inertial Navigation System atau INS yang juga dipakai pesawat, rudal, dan robot.
INS menggunakan 2 sensor utama yaitu sensor rotasi dan sensor gerakan. Sensor rotasi memakai giroskop yang selalu mempertahankan arahnya tetap, sementara sensor gerakan menggunakan akselerometer untuk mendeteksi perubahan kecepatan.
Giroskop modern pada kapal selam menggunakan Ring Laser Gyroscope (RLG) yang sangat presisi. Dengan mendeteksi perbedaan fase antara dua sinar laser, perubahan sudut sekecil apapun bisa diukur dengan akurat.
Sensor Pendukung Navigasi
Giroskop dilengkapi sensor gravitasi dan sensor magnetik untuk koreksi arah. Sistem AHRS (Attitude Heading Reference System) terus mengoreksi arah giroskop menuju pusat bumi agar tetap akurat meski menempuh jarak sangat jauh.