Bosnia Terancam Kembali ke Jurang Perang, Republika Srpska Tantang Pemerintah Pusat
Cianjur – Bosnia 30 tahun lalu identik dengan neraka di Eropa karena genosida dan perang saudara. Dunia bersumpah tragedi itu tak boleh terulang, namun hari ini tanda-tanda kelam kembali muncul.
Republika Srpska menantang pemerintah pusat dengan dukungan terbuka dari Rusia yang semakin nyata. Pemimpinnya, Milorad Dodik, menolak hukum Bosnia dan menarik wilayahnya dari institusi negara.
Perjanjian Dayton tahun 1995 memang berhasil menghentikan perang namun tidak pernah menyembuhkan luka. Negara ini dipaksa hidup dengan dua entitas besar dan tiga presiden berbeda yang selalu membawa bendera etnis.
Warisan Josip Broz Tito
Setelah Perang Dunia Kedua, Josip Broz Tito berhasil menyatukan etnis beragam di Yugoslavia. Slovenia, Kroasia, Bosnia Muslim, Serbia, Montenegro hingga Makedonia hidup berdampingan dalam satu negara.
Tito menggambar ulang peta dengan menjadikan Bosnia Herzegovina republik multietnis secara sengaja. Muslim Bosnia, Kroasia, dan Serbia hidup berdampingan dalam jumlah yang hampir seimbang untuk mencegah dominasi.
Ketika Tito wafat pada 1980, ikatan rapuh itu runtuh dan krisis ekonomi menghantam. Republik-republik kaya seperti Slovenia dan Kroasia ingin lepas dari federasi Yugoslavia yang semakin lemah.
Bosnia Herzegovina terjebak di tengah sebagai rumah tiga etnis besar yang mempertanyakan kepemimpinan. Referendum kemerdekaan digelar dan Bosnia memilih lepas, namun etnis Serbia menolak dengan mengangkat senjata.
Bekas Luka Perang
Perang Bosnia meninggalkan luka yang tak pernah sembuh dalam ingatan kolektif bangsa. Lebih dari 100.000 orang tewas dan jutaan lainnya terusir dari tanah kelahiran mereka.
Tragedi Srebrenica menjadi simbol kelam dengan 8.000 muslim Bosnia dibantai pasukan Serbia. Dunia tersentak dan NATO turun tangan untuk menghentikan pembantaian yang sistematis.
Perjanjian Dayton 1995 dipaksakan sebagai solusi kompromi yang rapuh dan sementara. Bosnia dibagi menjadi dua entitas: Federasi Bosnia-Kroasia dan Republika Srpska dengan sistem pemerintahan yang rumit.
Lahirlah sistem aneh dengan tiga presiden sekaligus dari etnis berbeda yang bergilir setiap 8 bulan. Sistem ini justru menjadi resep kebuntuan karena setiap keputusan penting bisa dipatahkan presiden lain.
Ancaman Milorad Dodik
Milorad Dodik semakin berani menantang pemerintah pusat dengan dukungan terbuka Rusia yang menguat. Setiap tahun dia merayakan Hari Republika pada 9 Januari meski Mahkamah Konstitusi melarangnya.