Tak Biasa! Inilah 7 Tradisi Pemakaman Paling Ekstrim di Dunia
- Pixabay
Cianjur – Kematian bukan hanya akhir dari kehidupan, tetapi juga awal dari sebuah perjalanan spiritual dalam banyak kepercayaan.
Setiap budaya memiliki cara unik dan penuh makna untuk menghormati mereka yang telah tiada.
Di berbagai belahan dunia, ada tradisi pemakaman yang bukan hanya unik tapi juga ekstrem, seperti menggantung peti di tebing atau membiarkan mayat dimakan burung.
Tradisi-tradisi ini menggambarkan kedalaman spiritual dan penghormatan manusia terhadap alam dan kehidupan setelah kematian.
Sky Burial: Mengembalikan Tubuh ke Alam
Di dataran tinggi Tibet, mayat tidak dikubur atau dibakar, melainkan diletakkan di puncak bukit agar dimakan burung nasar. Dalam kepercayaan mereka, tubuh hanyalah wadah sementara, dan tindakan ini dianggap mulia sebagai bentuk pengembalian tubuh ke alam.
Bayi Dalam Pohon: Kesucian yang Dijaga Alam
Masyarakat Toraja memiliki cara pemakaman unik untuk bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, yakni dengan memasukkan jenazah ke dalam batang pohon hidup. Pohon Tara dipercaya memiliki getah suci yang menggantikan air susu ibu dan menyatu kembali dengan bayi secara alami.
Pemakaman Terbuka di Trunyan, Bali
Desa Trunyan di Bali membiarkan jenazah terbuka di atas tanah dalam kurungan bambu tanpa dikubur atau dibakar. Anehnya, jenazah tidak menimbulkan bau karena berada di bawah pohon trunyan yang mengeluarkan aroma kuat sebagai penetral bau kematian.
Peti Mati Gantung di Tebing
Di Filipina dan Tiongkok, peti mati digantung di tebing tinggi sebagai simbol kedekatan dengan para leluhur di langit. Tradisi ini dilakukan dengan penuh ritual dan gotong royong warga, meski kini sebagian besar telah dijadikan situs sejarah.
Hanyut di Sungai Gangga
Bagi masyarakat Hindu di India, Sungai Gangga adalah tempat suci yang menyucikan dosa. Karena itu, jenazah—terutama dari kelompok tertentu—sering dihanyutkan langsung ke sungai sebagai bentuk penyucian jiwa dan pembebasan dari reinkarnasi.
Memakan Abu Jenazah: Tradisi Penyatuan Jiwa
Suku Yanomami di Amazon membakar jasad orang yang meninggal, lalu memakan abunya yang dicampur dengan pisang atau sup khusus. Bagi mereka, roh tidak akan tenang sampai semua bagian tubuh menyatu kembali dengan keluarga.