Mama Ajengan Opo Mustofa adalah sosok yang sangat sederhana dan santun. Beliau lahir di Garut sekitar tahun 1848. Mama Opo Mustofa mulai mendirikan pesantren di Cianjur saat usianya 50 tahun.
Rumahnya setiap hari ramai dikunjungi, sampai-sampai banyak tamu harus duduk di halaman. Karena itulah, beliau dikenal dengan sebutan Mama Kandang Sapi.
Beliau wafat pada tahun 1977 di usia 133 tahun. Sesuai wasiatnya, beliau dimakamkan di depan masjid yang dibangunnya pada tahun 1897. Hebatnya, masjid itu seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan masih berdiri kokoh sampai sekarang.
2. Ajengan Kyai Haji Ahmad Munawar, Sang Mama Ajengan Cilaku
Mama Ajengan Ahmad Munawar lahir di Sukabumi pada tahun 1916. Beliau dikenal sebagai guru yang sangat gigih dalam mendidik santri-santrinya. Hasilnya, banyak santri beliau yang berhasil menjadi kiai dan guru terkemuka.
Beliau menuntut ilmu di beberapa pesantren, salah satunya di pesantren Gentur. Pondok pesantren ini merupakan tempat terakhir beliau menimba ilmu, yang saat itu diasuh oleh dua ulama besar, Mama Ajengan Kyai Haji Ahmad Syatibi dan Mama Ajengan Kyai Haji Muhammad Qurtubi.
3. Ajengan Kyai Haji Muhammad Al Maghfur, Sang Mama Ajengan Cijambe
Mama Ajengan Muhammad Al Maghfur lahir pada tahun 1928 di kampungnya, Lembah Cilaku, Cianjur. Beliau adalah pendiri pesantren Raudhatul Muta'allimin di Cijambe, Cibeber, Cianjur, pada tahun 1951.
Beliau mendirikan pesantren itu saat usianya baru 23 tahun. Saat itu, banyak santri berdatangan dari berbagai daerah.
Semasa hidupnya, beliau banyak menulis kitab dan mencetak santri yang kemudian menjadi kiai besar. Beliau wafat pada tanggal 25 April 1993.
4. Raden Kyai Haji Zain Abdi Somad, Sang Mama Ajengan Gelar
Mama Ajengan Gelar atau Raden Kyai Haji Zain Abdi Somad lahir di Kampung Betawi Condong pada tahun 1929. Beliau masih punya hubungan darah dengan Raden Arya Wiratanu Datar.
Mama Gelar pernah menimba ilmu di Mekah selama sembilan tahun, berguru kepada Sayyid Alawi Al Maliki dan Said Amin.
Setelah pulang dari Mekah sekitar tahun 1950, beliau mendirikan pesantren Gelar. Pesantren itu sebelumnya didirikan oleh kakeknya, Mama Ibrahim.
Beliau juga ditugaskan oleh gurunya di Mekah untuk memperbanyak majelis taklim. Sekarang, sudah ada 137 majelis yang masih aktif.
Kisah para tokoh agama ini sangat menginspirasi, ya? Perjuangan mereka dalam menyebarkan ilmu Islam sangat luar biasa.
Mereka adalah para Ajengan di kota santri ini yang berhasil membangun peradaban lewat pendidikan agama. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita para ulama tersohor ini.