Menelusuri Jejak Tokoh Agama Hebat dari Cianjur, Kota Santri yang Penuh Kisah Inspiratif

Tokoh Ulama Cianjur
Sumber :
  • Pinterest.com

Cianjur – Siapa sangka, kota kecil di Jawa Barat ini punya banyak ulama hebat? Cianjur, yang dijuluki kota santri, punya banyak kisah menarik.

img_title Kisah 4 Jenderal Terbaik yang Mengubah Jalannya Sejarah Perang Dunia 2

Di sini, lahir dan berkembang para tokoh agama yang ajarannya menyebar ke berbagai daerah. Mau tahu siapa saja mereka? Mari kita telusuri kisah para

 
img_title Deretan Kisah Taktik Militer Tergila yang Bikin Musuh Salah Fokus Total

Ajengan ini dari masa lalu hingga sekarang. Mereka bukan hanya berdakwah, tapi juga mendirikan pesantren dan majelis ilmu. Kisah mereka patut diacungi jempol. Mereka adalah contoh nyata dari perjuangan untuk menyebarkan ilmu agama.

 
img_title Kisah Heroik F-15 Eagle yang Berhasil Terbang Cuma dengan Satu Sayap Saja

Jejak-jejak mereka masih bisa kita temukan sampai sekarang. Mulai dari pesantren yang didirikan hingga makam yang sering diziarahi. Penasaran siapa saja mereka?

 

Ada begitu banyak  ulama tersohor yang lahir di Cianjur, tapi kali ini kita akan membahas beberapa saja. Sayangnya, tidak semua bisa kita ulas, saking banyaknya. Yuk, simak kisah mereka!

1. Ajengan Kyai Haji Opo Mustofa, Sang Mama Kandang Sapi

Mama Ajengan Opo Mustofa adalah sosok yang sangat sederhana dan santun. Beliau lahir di Garut sekitar tahun 1848. Mama Opo Mustofa mulai mendirikan pesantren di Cianjur saat usianya 50 tahun.

Rumahnya setiap hari ramai dikunjungi, sampai-sampai banyak tamu harus duduk di halaman. Karena itulah, beliau dikenal dengan sebutan Mama Kandang Sapi.

 

Beliau wafat pada tahun 1977 di usia 133 tahun. Sesuai wasiatnya, beliau dimakamkan di depan masjid yang dibangunnya pada tahun 1897. Hebatnya, masjid itu seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan masih berdiri kokoh sampai sekarang.

2. Ajengan Kyai Haji Ahmad Munawar, Sang Mama Ajengan Cilaku

Mama Ajengan Ahmad Munawar lahir di Sukabumi pada tahun 1916. Beliau dikenal sebagai guru yang sangat gigih dalam mendidik santri-santrinya. Hasilnya, banyak santri beliau yang berhasil menjadi kiai dan guru terkemuka.

 

Beliau menuntut ilmu di beberapa pesantren, salah satunya di pesantren Gentur. Pondok pesantren ini merupakan tempat terakhir beliau menimba ilmu, yang saat itu diasuh oleh dua ulama besar, Mama Ajengan Kyai Haji Ahmad Syatibi dan Mama Ajengan Kyai Haji Muhammad Qurtubi.

3. Ajengan Kyai Haji Muhammad Al Maghfur, Sang Mama Ajengan Cijambe

Mama Ajengan Muhammad Al Maghfur lahir pada tahun 1928 di kampungnya, Lembah Cilaku, Cianjur. Beliau adalah pendiri pesantren Raudhatul Muta'allimin di Cijambe, Cibeber, Cianjur, pada tahun 1951.

Beliau mendirikan pesantren itu saat usianya baru 23 tahun. Saat itu, banyak santri berdatangan dari berbagai daerah.

 

Semasa hidupnya, beliau banyak menulis kitab dan mencetak santri yang kemudian menjadi kiai besar. Beliau wafat pada tanggal 25 April 1993.

4. Raden Kyai Haji Zain Abdi Somad, Sang Mama Ajengan Gelar

Mama Ajengan Gelar atau Raden Kyai Haji Zain Abdi Somad lahir di Kampung Betawi Condong pada tahun 1929. Beliau masih punya hubungan darah dengan Raden Arya Wiratanu Datar.

Mama Gelar pernah menimba ilmu di Mekah selama sembilan tahun, berguru kepada Sayyid Alawi Al Maliki dan Said Amin.

 

Setelah pulang dari Mekah sekitar tahun 1950, beliau mendirikan pesantren Gelar. Pesantren itu sebelumnya didirikan oleh kakeknya, Mama Ibrahim.

Beliau juga ditugaskan oleh gurunya di Mekah untuk memperbanyak majelis taklim. Sekarang, sudah ada 137 majelis yang masih aktif.

Kisah para tokoh agama ini sangat menginspirasi, ya? Perjuangan mereka dalam menyebarkan ilmu Islam sangat luar biasa.

Mereka adalah para Ajengan di kota santri ini yang berhasil membangun peradaban lewat pendidikan agama. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita para ulama tersohor ini.