Singapura Jadi Negara Bersih Padahal Produksi Sampah Plastik Tertinggi Dunia, Ternyata Sampahnya Dibuat Pulau!
- Youtube
Cianjur – Tahu nggak kalau Singapura adalah negara dengan produksi sampah plastik per kapita tertinggi di dunia? Dengan 66,5 kg per orang per tahun, angka ini bikin kaget.
Tapi yang lebih mengejutkan lagi, Singapura justru masuk peringkat 44 negara terbersih di dunia. Kok bisa ya?
Ternyata mereka punya cara genius mengelola sampah. Bukan dibuang begitu saja, tapi diubah jadi energi listrik dan bahkan pulau buatan.
Dilansir dari Channel Youtube Geografyi, Pulau Semakau bisa menjadi salah satu bukti betapa jeniusnya Singapura dalam mengelola sampahnya karena pulau ini terbuat dari sampah yang dikumpulkan dari seluruh Singapura.
Teknologi Pembakaran Sampah
Sampah yang bisa dibakar seperti kertas dan plastik dikirim ke pabrik insinerasi. Di sini sampah diubah jadi energi panas untuk menghasilkan listrik.
Listrik ini langsung dialirkan ke ribuan rumah di Singapura. Jadi sampah nggak cuma hilang, tapi jadi bermanfaat buat masyarakat.
Volume sampah berkurang sampai 90% setelah dibakar. Sisanya berupa abu yang dikirim ke tempat khusus.
Pulau Semakau: Pulau Buatan dari Abu Sampah
Abu hasil pembakaran sampah dibawa ke Pulau Semakau. Pulau ini adalah tempat pembuangan sampah lepas pantai pertama di dunia.
Pulau seluas 650 kali lapangan sepak bola ini dibangun dengan menggabungkan dua pulau alami. Ruang laut di antaranya ditutup dan dijadikan tempat penampungan abu.
Sekarang Pulau Semakau sudah hijau dengan rerumputan dan pepohonan. Siapa sangka kalau dasarnya adalah tumpukan abu sampah.
Inovasi Daur Ulang
Gas berbahaya dari pembakaran disaring sampai bersih sebelum dilepas ke udara. Abu yang dibuang juga tidak menyentuh air laut langsung.
Bahkan abu bekas ini akan dicampur semen untuk reklamasi pelabuhan. Jadi betul-betul zero waste dan berkelanjutan.
Sampah yang tadinya jadi beban lingkungan, kini jadi sumber energi listrik dan bahan untuk reklamasi. Inovasi ini patut ditiru negara-negara lain yang masih kesulitan mengelola sampah.