Separuh Wilayah Bangladesh Tenggelam Tiap Tahun, Terancam Hilang dari Peta Dunia?
Cianjur – Bayangkan hidup di negara yang separuh wilayahnya tenggelam setiap tahun. Mimpi buruk ini menjadi kenyataan bagi Bangladesh.
Negara dengan 160 juta penduduk ini menghadapi ancaman eksistensial. Banjir, siklon, dan naiknya permukaan laut mengepung dari segala arah.
Ironisnya, Bangladesh bukan penyumbang utama perubahan iklim. Namun mereka merasakan dampak paling mengerikan.
Dilansir dari Channel Youtube Geografyi, Bangladesh menempati urutan ke-10 negara paling terdampak perubahan iklim meski emisi karbonnya rendah.
Wilayah Geografis Rentan
Bangladesh terletak di delta tiga sungai besar yaitu Gangga, Brahmaputra, dan Meghna. Posisi geografis ini menjadi berkah sekaligus kutukan.
75% wilayah Bangladesh berada kurang dari 5 meter di atas permukaan laut. Ketika salju Himalaya mencair, air mengalir ke Bangladesh.
Bentuk Teluk Benggala yang menyempit mengarahkan badai langsung ke pantai. Kombinasi ini menciptakan bencana sempurna.
Banjir Tahunan Mematikan
Sejak 1972, banjir Bangladesh telah merenggut 42.000 nyawa. Bencana ini terjadi berulang dengan dampak semakin parah.
Banjir 1998 menenggelamkan 75% wilayah Bangladesh. 30 juta orang kehilangan tempat tinggal dan 1.000 orang tewas.
Setengah Dhaka, ibu kota negara, ikut tergenang. 400 pabrik terpaksa tutup, ekonomi anjlok 20%.
Ancaman Masa Depan
Pada 2050, satu dari tujuh orang Bangladesh akan mengungsi. Kenaikan permukaan laut 50 cm akan menenggelamkan 11% wilayah.
18 juta orang mungkin kehilangan tempat tinggal. Pada 2100, angka pengungsi bisa mencapai 50 juta jiwa.
Salinitas tanah akibat air laut mengancam pertanian. Air minum terkontaminasi garam menyebabkan masalah kesehatan.
Hutan mangrove Sundarbans berfungsi sebagai pelindung alami. Jika tenggelam, Bangladesh kehilangan tameng terakhir dari badai siklon.
Bangladesh adalah korban perubahan iklim global. Negara yang sedikit berpolusi justru menanggung beban terberat akibat ulah negara-negara industri.