Retakan Besar 15 KM Sudah Muncul di Kenya, Benua Afrika Bakal Pecah Jadi Dua?
- Youtube
Cianjur – Tanah yang kita injak sebenarnya terus bergerak tanpa kita sadari. Benua-benua adalah lempeng tipis yang mengapung di atas bola batu panas mendidih.
Dalam jutaan tahun, lempeng-lempeng ini bergesekan dan bertabrakan. Proses ini berjalan lambat namun bisa menyebabkan perubahan besar pada geografi bumi.
Dilansir dari Channel Youtube Geografyi, retakan sepanjang 15 km di Kenya menandai dimulainya proses pemecahan Benua Afrika menjadi dua bagian.
Retakan Besar di Kenya
Pada 2018, retakan besar sepanjang 15 km terbuka tiba-tiba di Kenya Barat Daya. Retakan ini muncul setelah hujan lebat dan menelan sebagian jalan raya.
Lokasi retakan berada di Lembah Retakan Kenya yang merupakan bagian sistem Retakan Afrika Timur. Wilayah ini memiliki aktivitas tektonik paling aktif di dunia.
Sebelumnya pada 2005, retakan sepanjang 53 km juga muncul di gurun Ethiopia. Kedua peristiwa ini menunjukkan aktivitas pemecahan benua yang semakin intens.
Sistem Retakan Afrika Timur
Lembah Retakan Afrika Timur membentang 3.500 km dari Teluk Aden hingga Zimbabwe. Sistem ini membelah lempeng Afrika menjadi lempeng Somalia dan Nubia.
Lempeng Somalia bergerak ke timur menjauh dari lempeng Nubia yang lebih besar. Keduanya juga terpisah dari lempeng Arab di utara.
Retakan mulai terbentuk 35 juta tahun lalu antara Arabia dan Afrika Timur. Proses ini meluas ke selatan mencapai Kenya Utara 25 juta tahun lalu.
Gaya Pemecah Benua
African Superplume adalah gumpalan besar mantel panas di bawah Afrika. Gumpalan ini mendorong litosfer ke atas menyebabkan peregangan dan retakan.
Mantel yang naik membuat lapisan bumi lebih panas dan meregang. Akhirnya lapisan ini pecah membentuk lembah-lembah retakan.
Bukti keberadaan superplume ditemukan dalam data geofisika. Gumpalan ini juga menjelaskan topografi tinggi dataran tinggi Afrika.
Skenario Pemecahan Benua Afrika
Jika Afrika benar terbelah, ada dua skenario yang mungkin terjadi. Skenario pertama, sebagian besar lempeng Somalia terpisah dengan terbentuknya laut.
Daratan baru akan mencakup Somalia, Eritrea, Djibouti, dan bagian timur Ethiopia-Kenya-Tanzania-Mozambik. Skenario kedua hanya memisahkan Tanzania Timur dan Mozambik.
Proses ini membutuhkan puluhan juta tahun dengan kecepatan 0,7 cm per tahun. Retakan akan melebar, kerak menipis, dan air laut menyerbu zona retakan.
Beberapa ahli berpendapat kekuatan geologis Afrika terlalu lambat untuk memisahkan lempeng Somalia dan Nubia. Retakan mungkin berhenti di tengah jalan.
Namun bukti aktivitas yang terus berlanjut menunjukkan proses ini masih aktif. Waktu akan menentukan apakah Benua Afrika benar-benar akan terbelah.