Perdagangan Budak Atlantik Angkut Puluhan Juta Manusia, Dipaksa Membangun Amerika!
- Youtube
Cianjur – Ratusan orang berdesak-desakan dalam kapal laut yang gelap dan pengap. Mereka dipaksa berbaring dalam barisan panjang seperti barang dagangan yang ditumpuk.
Bau busuk menguar di udara, lantai penuh air liur, muntahan, dan kotoran. Pergelangan kaki dan tangan mereka dirantai sehingga hampir tidak bisa bergerak.
Ini baru hari pertama dari perjalanan perdagangan budak yang akan berlangsung berbulan-bulan. Informasi kelam ini dilansir dari Channel Youtube Kok Bisa.
Awal Mula Perdagangan Manusia
Semuanya berawal dari perkebunan yang dibuka di benua Amerika. Setelah Columbus "menemukan" Amerika, orang Eropa ramai-ramai berlayar untuk menjajah.
Mereka membuka banyak perkebunan mulai dari padi, tembakau, hingga kapas. Namun karena tidak cukup pekerja, para pendatang Eropa "mengimpor" orang Afrika.
Kapas saat itu sedang laku banget di pasar dunia karena produksinya anjlok. Harganya melambung tinggi dan Amerika melihat peluang emas yang cemerlang.
Amerika punya tanah luas, iklim sesuai, dan teknologi pengolah kapas terbaru. Yang kurang hanya satu yaitu tenaga kerja untuk menggarap perkebunan.
Akhirnya Amerika makin banyak mengimpor budak dari Afrika untuk kerja paksa. Ini sangat menguntungkan karena seperti punya perusahaan besar tanpa bayar gaji.
Sistem Perbudakan yang Keji
Para budak kerja paksa kapan saja tanpa mendapat upah sepeser pun. Anak-anak budak juga otomatis menjadi budak dan mewarisi penderitaan orang tua.
Puluhan juta orang diangkut dari Afrika ke Amerika selama ratusan tahun. Kalau dibaris, mereka akan membentang dari Jakarta sampai ke Italia.
Ini belum menghitung yang tewas di perjalanan karena sakit atau dibunuh. Banyak perempuan dilecehkan dan diperkosa oleh kru kapal yang mengangkut mereka.
Mayat-mayat dilempar ke laut dan dibiarkan tenggelam tanpa penguburan layak. Laut Atlantik menjadi saksi bisu penderitaan jutaan manusia tak berdosa.
Begitu sampai di Amerika, para budak diperlakukan seperti barang dagangan. Iklan penjualannya disebar di koran dan mereka dijejer di etalase pasar.
Tubuh mereka dicap seperti ternak dan punggung mereka akrab dengan cambuk. Bagi yang berani melawan, kematian mereka dijadikan pertunjukan mengerikan.