Ambisi Besar Erdogan Hidupkan Kembali Kejayaan Kekaisaran Ottoman, Bisa Jadi Nyata?
Cianjur – Turki di bawah Presiden Erdogan menunjukkan ambisi geopolitik yang semakin mengkhawatirkan. Negara dengan militer terbesar kedua di NATO ini punya semua modal jadi kekuatan regional yang dominan.
Tahun 2021, stasiun TV pro-pemerintah Turki tayangkan peta yang membuat heboh. Peta itu gambarkan ekspansi wilayah Turki sampai mirip Kekaisaran Ottoman zaman dulu.
Erdogan memang sering sebut-sebut kejayaan Kekaisaran Ottoman dalam pidato-pidatonya. Dia khususnya suka bahas Sultan Selim I yang berhasil perluas wilayah kekaisaran secara besar-besaran.
Dilansir dari Channel Youtube Geografui, ambisi menghidupkan kembali kejayaan nenek moyang ini dibarengi strategi modern.
Strategi Neo-Ottoman Era Digital
Erdogan tidak pakai cara kuno seperti perang besar-besaran buat perluas wilayah. Dia lebih pilih strategi modern lewat pengaruh ekonomi, politik, dan budaya yang lebih halus.
Amerika Serikat jadi contoh bagaimana dominasi zaman sekarang dilakukan lewat lembaga internasional. Erdogan adopsi pendekatan serupa tapi dengan fokus regional dan nilai-nilai Islam.
Di berbagai konflik regional, Turki selalu posisikan diri sebagai pelindung umat Islam. Strategi ini efektif buat bangun citra sebagai pemimpin dunia Islam seperti Ottoman dulu.
Ekspansi Militer ke Berbagai Benua
Turki sekarang aktif banget bikin kesepakatan militer dengan banyak negara. Somalia, Libya, Ethiopia, Niger, dan Azerbaijan jadi partner strategis dalam program pelatihan militer.
Di Suriah, Turki latih kelompok oposisi buat bentuk Tentara Nasional Suriah. Mereka juga operasi militer melawan kelompok Kurdi yang dianggap ancaman keamanan.
Pangkalan militer Turki sekarang tersebar di Qatar, Somalia, dan Siprus Utara. Kehadiran militer ini tidak cuma buat keamanan, tapi juga proyeksi kekuatan di kawasan strategis.
Kendala Ekonomi yang Mengancam Ambisi
Meski punya ambisi besar, Turki hadapi masalah ekonomi serius beberapa tahun belakangan. Mata uang Lira terus melemah dan inflasi naik sampai 60% akhir 2024.
Hutang luar negeri yang membengkak juga jadi ancaman serius buat stabilitas ekonomi. Kondisi ini membuat banyak orang pertanyakan apakah ambisi Erdogan realistis atau cuma mimpi.
Rakyat Turki mulai merasakan dampak kebijakan luar negeri yang agresif ini. Biaya hidup naik sementara ekonomi domestik tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan.