Ilmuwan Temukan Kaldera Mengerikan Tersembunyi di Lautan Alaska, Bisa Mengancam Dunia?
- Youtube
Cianjur – Kepulauan Aleutian di Alaska tampak seperti rangkaian pulau biasa dari udara. Namun penelitian mengejutkan tahun 2020 mengungkap rahasia mengerikan di bawah laut.
57 gunung berapi aktif yang membentang 1.900 kilometer ternyata bukan berdiri sendiri. Para ilmuwan menduga mereka adalah bagian dari satu gunung berapi raksasa bawah laut.
Dilansir dari Channel Youtube Geografyi, jika dugaan benar, ancaman letusan dahsyat mengintai dunia.
Proses Terbentuknya Kepulauan Aleutian
Kepulauan Aleutian terbentuk dari pergerakan lempeng tektonik yang sangat aktif. Lempeng Pasifik menunjam di bawah lempeng Amerika Utara selama jutaan tahun.
Proses ini menciptakan panas dahsyat yang melelehkan batuan di dalam bumi. Magma yang terbentuk naik ke permukaan melalui retakan lempeng.
Gunung berapi kemudian meletus berulang kali mengeluarkan lava dan abu. Material vulkanik menumpuk hingga mencapai permukaan laut dan membentuk pulau.
Bukti Adanya Kaldera Tersembunyi
Penelitian tahun 2020 menemukan enam pulau di Kepulauan Four Mountains saling terhubung. Pulau Carlisle, Cleveland, Herbert, Kagamil, Tana, dan Uliaga diduga lubang ventilasi kaldera besar.
Data seismik dan pemetaan dasar laut mendukung hipotesis mengejutkan ini. Aktivitas vulkanik di keenam pulau menggunakan ruang magma yang sama.
Gunung Cleveland yang sering meletus menjadi bukti kuat teori tersebut. Gunung ini telah meletus 60-70 kali sejak 2001 dengan pola yang mencurigakan.
Ancaman Letusan Dahsyat
Letusan kaldera merupakan bencana vulkanik paling destruktif di bumi. Dampaknya bisa dirasakan di seluruh dunia dan mempengaruhi iklim global.
Gunung Okmok yang dekat dengan dugaan kaldera pernah meletus pada 43 SM. Letusan tersebut diyakini menyebabkan gangguan cuaca yang merusak Republik Romawi.
Jika kaldera Four Mountains benar-benar ada dan meletus, dampaknya akan jauh lebih dahsyat. Abu dan gas vulkanik bisa memicu perubahan iklim ekstrem.
Penelitian Masih Berlanjut
Tim peneliti masih membutuhkan bukti langsung untuk memastikan keberadaan kaldera raksasa. Mereka perlu kembali ke lokasi dan mengumpulkan sampel batuan vulkanik.
Pengamatan dasar laut yang lebih detail juga diperlukan untuk pemetaan akurat. Data seismik dan gravitasi tambahan akan memperkuat atau membantah hipotesis.