Iran Mau Pindahkan Ibukota ke Lembah Kematian, Kenapa Pilih Tempat Ekstrem?
- Youtube
Cianjur – Rencana pemindahan ibukota biasanya mempertimbangkan lokasi strategis dan kondisi geografis yang layak. Namun Iran tampaknya memilih jalan berbeda dengan mempertimbangkan wilayah Makran sebagai ibu kota baru.
Makran dikenal sebagai "Lembah Kematian". Kawasan ini memiliki kondisi alam ekstrem yang sangat menantang untuk kehidupan manusia.
Dilansir dari Channel Youtube Geografyi, Presiden Masoud Pezeshkian telah menghidupkan kembali usulan pemindahan ibukota dari Tehran yang sudah ada sejak 1989.
Berbagai kota seperti Isfahan, Hamedan, dan Shiraz pernah dipertimbangkan sebelumnya.
Masalah Tehran Menumpuk
Tehran kini menampung sekitar 18 juta jiwa dari total 92 juta penduduk Iran. Kelebihan populasi ini menyebabkan kemacetan parah, krisis air dan listrik, serta polusi udara tinggi.
Faktor geografis juga mengancam keamanan kota. Tehran berada di zona gempa aktif dengan beberapa sesar yang dapat menghasilkan gempa berkekuatan lebih dari 7 skala Richter.
Kondisi Ekstrem Makran
Makran adalah jalur pantai semi kering yang membentang 1.000 km dari Iran hingga Pakistan. Landskapnya didominasi gurun tandus, pegunungan terjal, dan delta sungai luas.
Suhu musim panas bisa mencapai 50 derajat Celsius dengan kelembaban tinggi. Hujan jarang turun, namun saat datang seringkali berupa badai dahsyat yang menyebabkan banjir bandang.
Sejarah Kelam Kawasan
Julukan "Lembah Kematian" bukan tanpa alasan. Tsunami besar pada 1945 akibat gempa 8,1 skala Richter telah menewaskan ribuan orang di kawasan ini.
Sejarah Alexander Agung juga mencatat tragedi di Makran. Dari 30.000-40.000 pasukan yang melewati kawasan ini pada 325 SM, hanya 6.000-8.000 yang selamat karena panas ekstrem dan kekurangan air.
Potensi Ekonomi Menjanjikan
Meski kondisinya ekstrem, Makran memiliki potensi ekonomi besar. Pelabuhan Chabahar memberikan akses langsung ke Laut Arab dan Samudra Hindia, menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz.
India telah menginvestasikan miliaran dollar untuk mengembangkan Pelabuhan Chabahar. Pada 2016, Iran, India, dan Afghanistan menandatangani kesepakatan trilateral untuk menjadikan pelabuhan ini jalur perdagangan utama.
Namun tantangan besar masih menghadang. Sanksi ekonomi Amerika membuat biaya pembangunan semakin mahal, ditambah kekurangan air tawar yang harus diatasi dengan desalinasi air laut.