5 Fakta Mengejutkan Bajak Laut Somalia! Dulunya Hanya Nelayan Biasa, Lalu DIpaksa Keadaan

Bajak laut Somalia
Sumber :
  • Youtube

Cianjur – Siapa yang tidak kenal bajak laut Somalia? Mereka bukan karakter fiksi seperti Jack Sparrow. Bajak laut Somalia adalah ancaman nyata yang menguasai perairan Afrika.

img_title Kapal Kontainer Raksasa Bawa 24 Ribu Peti dan Ini Cara Amankannya!

Tapi tahukah kamu bahwa mereka dulunya bukan penjahat? Mereka awalnya adalah nelayan dan penjaga pantai yang terpaksa berubah profesi.

Tragedi ini bermula dari perang saudara Somalia tahun 1991. Konflik internal menghancurkan pemerintahan resmi Somalia secara total.

img_title Bosnia Terancam Kembali ke Jurang Perang, Republika Srpska Tantang Pemerintah Pusat

Dilansir dari Channel Youtube Geografyi, perang saudara ini mengakibatkan negara kehilangan kedaulatan termasuk di wilayah laut sepanjang 3.330 km.

Mereka Adalah Nelayan yang Dirugikan

img_title Dari Negara Miskin Jadi Kaya Raya, Taiwan Kalahkan China dalam Hal Ini!

Para bajak laut Somalia dulunya adalah nelayan biasa yang mencari nafkah. Mereka harus menyaksikan mata pencaharian dicuri di depan mata sendiri.

Kapal-kapal asing menjarah stok ikan Somalia tanpa izin dan tanpa rasa bersalah.

Laporan PBB tahun 2006 mengungkap fakta mencengangkan ini. Perairan Somalia menjadi lokasi penangkapan ikan bebas bagi armada internasional.

Para nelayan lokal dengan peralatan seadanya tidak mampu melawan invasi ini.

Tsunami dan Limbah Beracun Memperparah Kondisi

Bencana tsunami Samudra Hindia 2004 semakin memperburuk nasib nelayan Somalia. Tsunami juga membuka tabir rahasia yang mencengangkan dunia.

Program Lingkungan PBB melaporkan temuan mengejutkan setelah tsunami. Ratusan kontainer limbah beracun terdampar di pantai Somalia.

Ternyata perusahaan Eropa membuang limbah radioaktif ke perairan Somalia selama bertahun-tahun.

Dari Nelayan Menjadi Bajak Laut

Kondisi kemiskinan dan keputusasaan memaksa para nelayan mengambil jalan ekstrem.

Mereka membentuk kelompok bersenjata untuk melindungi wilayah laut Somalia. Sebelum 2005 pembajakan masih jarang terjadi dan bersifat spontan.

Namun memasuki tahun 2005 situasi berubah drastis. Serangan bajak laut meningkat tajam dengan perencanaan yang matang.

Pada puncaknya di tahun 2009, bajak laut Somalia menyumbang 50% pembajakan kapal dunia.

Bisnis Tebusan yang Menggiurkan

Para bajak laut mengembangkan model bisnis tebusan yang menguntungkan.

Mereka meminta uang tebusan rata-rata 1 juta USD per kapal. Tahun 2008 bajak laut Somalia meraup hingga 30 juta USD dari aksi tebusan.

Uang ini kemudian dibagi dengan para investor lokal. Para pemimpin pemberontakan berinvestasi dalam bisnis pembajakan kapal. Bahkan kota-kota pesisir memperoleh keuntungan ekonomi.

Halaman Selanjutnya
img_title