Brunei Barussalam Negara Terkaya Dunia, Diprediksi akan Segera Bangkrut!
- Youtube
Cianjur – Brunei Darussalam dijuluki negeri petrodolar karena kekayaan minyak yang melimpah. Penduduknya hidup tanpa pajak, pendidikan gratis, dan layanan kesehatan gratis.
Bahkan Sultan Brunei masuk urutan kedua sebagai raja terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai 46 triliun rupiah. Tapi kemakmuran ini terancam bangkrut dalam 15-25 tahun ke depan.
Cadangan minyak Brunei Darussalam diperkirakan akan habis total pada masa tersebut. Pertanyaannya, apakah Brunei siap menghadapi masa depan tanpa minyak?
Negara kecil seluas Pulau Bali ini sangat bergantung pada minyak dan gas. Informasi ini dilansir dari Channel Youtube Geografyi.
Tiga Masalah Besar yang Mengancam Brunei Darussalam
1. Ketergantungan Berlebihan pada Minyak
Lebih dari 90% ekspor Brunei berasal dari sektor minyak dan gas. Produksi minyak Brunei terus menurun dari 240.000 barel per hari pada 2006 menjadi 103.000 barel pada 2020.
Ladang minyak semakin menua dan aktivitas eksplorasi sangat terbatas. Sementara dunia beralih ke energi terbarukan, Brunei masih mengandalkan sumber daya yang akan habis.
2. Pengangguran Tinggi di Kalangan Muda
Tingkat pengangguran pemuda mencapai 23,4% pada 2021 karena masalah kritis. Mereka hanya mau kerja kantoran dan menolak pekerjaan manual seperti pertanian.
Program kesejahteraan pemerintah yang melimpah membuat banyak yang lebih suka menunggu daripada bekerja keras. Ini menciptakan budaya malas dan ketergantungan pada bantuan negara.
3. Kurangnya Semangat Kewirausahaan
Pekerjaan pertanian dan manufaktur sering diisi pekerja asing karena warga lokal tidak berminat. Padahal sektor ini penting untuk diversifikasi ekonomi agar tidak bergantung minyak.
Budaya dimanja selama puluhan tahun membuat semangat kewirausahaan sangat rendah. Masyarakat lebih suka pekerjaan yang dianggap bergengsi dengan gaji tinggi di kantor.
Pemerintah Brunei Darussalam meluncurkan program Wawasan Brunei 2035 untuk mengubah negara dari yang bergantung minyak menjadi pusat perdagangan regional.
Tanpa perubahan drastis dalam mentalitas masyarakat, negara yang selama 95 tahun hidup mewah ini bisa mengalami kejatuhan ekonomi yang parah.