Dibangun tanpa semen dan besi penyangga! Berikut Misteri dan Fakta Unik di Balik Jam Gadang Bukittinggi
- Youtube
Cianjur – Jam Gadang bukan hanya sekadar menara jam biasa. Ia adalah ikon sejarah yang menyimpan banyak cerita menarik.
Berada di pusat kota Bukittinggi, bangunan ini tak pernah sepi pengunjung. Namun, tak banyak yang tahu sejarah dan misterinya.
Dari mesin langka hingga terowongan rahasia, semuanya bikin penasaran. Artikel ini akan mengajakmu menyelami rahasia Jam Gadang lebih dalam.
Misteri dan Fakta Unik di Balik Jam Gadang Bukittinggi
Jam Gadang adalah ikon kota Bukittinggi yang selalu menarik perhatian wisatawan. Namun, di balik kemegahannya, menara jam ini menyimpan banyak cerita menarik dan misterius.
Tak hanya jadi objek wisata, Jam Gadang adalah warisan budaya yang sarat nilai sejarah. Mulai dari keunikan mesinnya hingga kisah angka romawinya, semuanya patut disimak.
Mesin Jam yang Langka dan Bersejarah
Jam Gadang digerakkan oleh mesin unik yang hanya ada dua di dunia. Satunya lagi ada di menara jam Big Ben, London.
Mesin tersebut buatan Jerman tahun 1892 dan tetap bekerja hingga kini. Ini membuatnya sangat berharga dan langka.
Hadiah Kerajaan Belanda untuk Bukittinggi
Jam Gadang adalah hadiah dari Ratu Belanda pada tahun 1926. Hadiah itu diberikan kepada sekretaris kota saat itu, sebagai bentuk penghormatan.
Pembangunannya diawasi arsitek lokal dan melibatkan anak-anak dari pejabat Belanda. Total biaya pembangunannya mencapai 3000 golden.
Bentuk Atap yang Tiga Kali Berubah
Bentuk atap Jam Gadang tidak selalu seperti sekarang. Awalnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya.
Saat Jepang berkuasa, atapnya diubah menjadi pagoda. Setelah Indonesia merdeka, atapnya diganti menjadi gonjong khas Minangkabau.
Gempa yang Merusak Bandul Jam
Pada tahun 2007, gempa besar melanda Sumatera Barat. Bandul jam yang menjadi penggerak sempat patah akibat guncangan.
Bandul tersebut kemudian diganti dengan yang baru. Saat ini, bandul lama tidak lagi digunakan.
Misteri Penulisan Angka 4 yang Tak Biasa
Angka 4 di Jam Gadang ditulis sebagai "IIII", bukan "IV". Ada berbagai teori di balik keanehan ini.
Salah satunya, Belanda ingin menghindari simbol yang bisa membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Ada juga yang percaya itu untuk mengenang empat pekerja yang gugur.