Rusia Tak Gentar dengan Ultimatum Donald Trump, Malah Balik Ancam NATO Pakai Nuklir
- Youtube
Cianjur – Konflik Rusia dan Ukraina semakin memanas setelah Donald Trump memberikan ultimatum kepada Vladimir Putin. Alih-alih mengendur, Rusia malah melayangkan ancaman balasan.
Ancaman nuklir kembali mencuat ketika Rusia menolak untuk tunduk pada tekanan Amerika dan NATO. Putin bahkan memperluas invasi dengan menjatuhkan bom seberat 500 kg ke pusat perbelanjaan Dobropilia.
Situasi ini membuat negara-negara NATO semakin waspada karena Rusia mengisyaratkan pemberontakan. Senjata nuklir kembali menjadi kartu ancaman utama dalam eskalasi konflik ini.
Informasi mengenai ancaman nuklir Rusia terhadap NATO ini dilansir dari Channel Youtube Data Fakta. Mari kita bahas perkembangan terbaru konflik yang semakin mengkhawatirkan ini.
Rusia Intensifkan Serangan ke Ukraina
Rusia menjatuhkan bom seberat 500 kg ke pusat perbelanjaan ramai di Dobropilia pada 16 Juli 2025. Serangan ini menewaskan sedikitnya 4 orang sipil dan melukai 27 lainnya.
Pemerintah Ukraina menuding Rusia sengaja menargetkan kawasan sipil sebagai bentuk teror. Kepala Administrasi Militer Regional Donetsk menyebut ini sebagai serangan yang disengaja di area ramai.
Selain pusat perbelanjaan, Rusia juga menyerang kereta api dan infrastruktur sipil lainnya. Senjata yang digunakan mencakup rudal balistik MLRS dan drone Shahed yang merusak pemukiman warga.
Ukraina melaporkan kerusakan pada 54 gerai retail, 304 apartemen, dan 8 kendaraan akibat serangan tersebut. Agresi Rusia ini semakin mempertegas penolakan mereka terhadap ultimatum Amerika.
Bentuk Pemberontakan Terhadap AS dan NATO
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Ryabkov menegaskan bahwa negaranya tidak bisa didekte oleh siapapun. Rusia mendukung penyelesaian diplomatik namun siap melanjutkan operasi militer jika tidak tercapai kesepakatan.
NATO dan Amerika diminta menanggapi dengan serius ancaman yang dilayangkan Rusia. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyatakan pihaknya akan menganalisa pernyataan Trump secara menyeluruh.
Juru bicara Dmitry Peskov mengatakan Rusia telah memperhatikan ultimatum 50 hari Trump. Namun mereka tetap pada pendirian untuk melanjutkan invasi Ukraina hingga tujuan tercapai.
Eskalasi konflik ini dipicu oleh keputusan Barat memasok senjata canggih ke Ukraina. Rusia menganggap hal ini sebagai provokasi yang harus dibalas dengan tegas.
Rusia Siap Serang Negara NATO