Dari Harapan Hidup 26 Tahun Hingga Ekspor Triliunan, Transformasi Bangladesh Bikin Dunia Melongo
- id.pinterest.com
Cianjur – Siapa sangka Bangladesh yang dulu dikenal sebagai negara termiskin kini menjadi raksasa ekonomi?
Transformasi menakjubkan ini dimulai dari kehancuran total pasca kemerdekaan 1971. Perang brutal yang menewaskan 3 juta jiwa menjadi titik balik sejarah negara ini.
Kini Bangladesh diprediksi menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia tahun 2024.
Bagaimana bisa negara yang porak-poranda ini bangkit spektakuler? Mari kita ungkap kisah inspiratif di balik kesuksesan Bangladesh.
Awal yang Pahit Pasca Kemerdekaan
Setelah merdeka dari Pakistan tahun 1971, Bangladesh menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan.
Harapan hidup rata-rata penduduk hanya 26 tahun dengan PDB per kapita sekitar 133 USD. Infrastruktur hancur total akibat perang kemerdekaan yang brutal tersebut.
Kebijakan sosialis Syekh Mujibur Rahman tidak berhasil memperbaiki ekonomi. Bencana alam seperti banjir semakin memperburuk kondisi rakyat yang sudah menderita.
Revolusi Kebijakan Ekonomi
Kudeta militer 1975 membawa Ziaur Rahman ke tampuk kekuasaan dengan visi baru.
Dia mengubah kebijakan dari sosialis menjadi lebih liberal dan terbuka. Zona pemrosesan ekspor mulai dibuka untuk menarik investasi asing masuk.
Sektor pertanian mendapat perhatian khusus sehingga angka kelaparan mulai menurun. Pada 1980-an, industri garmen mulai berkembang dengan Nurul Quader sebagai pelopornya.
Era Keemasan Industri Garmen
Bangladesh kini menjadi salah satu produsen garmen terbesar di dunia yang menakjubkan. Ekspor garmen menyumbang 81% dari total ekspor negara ini. Industri ini menjadi tulang punggung ekonomi yang mengangkat jutaan keluarga dari kemiskinan.
Zona pemrosesan ekspor terus diperluas untuk mengakomodasi pertumbuhan industri. Investasi asing berdatangan karena tertarik dengan tenaga kerja murah dan berkualitas.
Transisi ke Demokrasi dan Liberalisasi
Tahun 1990 menandai era baru dengan transisi ke sistem demokrasi. Khidazia terpilih sebagai perdana menteri yang melanjutkan kebijakan liberalisasi ekonomi.
Lebih banyak zona pemrosesan ekspor dibuka untuk mempercepat pertumbuhan.
Meskipun masih bergantung pada sektor garmen, diversifikasi ekonomi mulai dilakukan. Sektor jasa dan teknologi informasi juga mulai dikembangkan secara bertahap.
Peran LSM dalam Pembangunan
LSM berperan vital dalam membantu masyarakat dengan menyediakan layanan pendidikan dan kesehatan.