Jepang Terancam Punah, Desa-Desa Kosong Melompong Karena Ditinggalkan Penduduk
- Youtube
Cianjur – Jepang memang negara yang sangat menarik untuk dibahas. Tapi tahukah kamu kalau ternyata negara ini sedang menghadapi masalah serius yaitu terancam punah?
Negara yang terkenal dengan teknologi canggih ternyata banyak ditinggalkan penduduk. Fakta tentang Jepang ini diringkas langsung dari channel YouTube Invoice Indonesia.
Masalahnya dimulai dari fenomena populasi yang menua dan terus menurun. Sebanyak 92% penduduk Jepang tinggal di perkotaan, sehingga desa dan kota kecil menjadi sepi dan ditinggalkan.
Program penggabungan yang disebut HEC antara tahun 1999-2010 berhasil mengurangi 3.232 kota kecil menjadi hanya 1.727 kota. Bayangkan berapa banyak desa di Jepang yang hilang.
Sejarah Panjang Jepang
Jepang memiliki sejarah yang sangat panjang dan menarik. Periode Jomon menandai kehadiran manusia di Kepulauan Jepang sejak 13.000 SM, menunjukkan sejarah prasejarah yang kaya.
Kekaisaran Jepang dibentuk pada 660 SM menurut catatan sejarah. Meskipun validitasnya masih diperdebatkan, ini menunjukkan asal-usul monarki tertua di dunia.
Dari Keshogunan ke Modernisasi
Keshogunan menguasai Jepang dari tahun 1185 hingga 1867. Pada periode ini, kaisar tidak memiliki kekuasaan nyata dalam pemerintahan.
Restorasi Meiji pada tahun 1867 mengakhiri era Keshogunan. Kekuasaan dikembalikan kepada kaisar dan membuka jalan bagi modernisasi pesat serta industrialisasi.
Keterlibatan dalam Perang Dunia II
Kebutuhan akan sumber daya akibat industrialisasi mendorong Jepang menaklukkan wilayah sekitar. Jepang bergabung dalam Perang Dunia II dengan menyerang Tiongkok dan Pearl Harbor pada 1941.
Kekalahan Jepang terjadi setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Ini menyebabkan penyerahan diri dan pendudukan oleh Sekutu.
Krisis Demografi Modern
Inilah masalah paling serius yang dihadapi Jepang saat ini. Pemerintah memberikan insentif finansial besar untuk mengatasi penurunan populasi.
Setiap kelahiran mendapat bantuan 500.000 yen plus subsidi persalinan. Ditambah 5.000 yen per bulan hingga anak berusia 18 tahun untuk mendorong angka kelahiran.
Meski upah minimum di Jepang cukup tinggi yaitu 1.002 yen per jam, tetap saja masyarakat enggan punya anak. Ini membuat desa-desa semakin sepi dan terancam punah.