Kota Hantu Nusantara, 5 Tempat Misterius yang Dicatat Sejarah Tapi Hilang Tanpa Jejak!
- YouTube
Cianjur – Bayangkan kota besar yang ramai tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Terdengar seperti film fiksi, tapi ini nyata terjadi di Nusantara kita!
Lima kota legendaris ini pernah jadi pusat peradaban besar. Dicatat dalam kitab kuno dan disebut pelaut asing, namun hingga kini tak ada yang tahu di mana mereka berada.
1. Pakuan Pajajaran
Pakuan Pajajaran adalah pusat Kerajaan Sunda yang makmur. Tom Pires dalam Suma Oriental bahkan memuji Pakuan sebagai kota besar yang sibuk.
Tapi kini yang tersisa hanya misteri di Bogor. Tak ada runtuhan istana, tembok kota, atau peninggalan monumental yang bisa ditemukan.
2. Melayu
Prasasti Kedukan Bukit menyebut Kerajaan Melayu yang berdiri sebelum Sriwijaya. Catatan Tiongkok juga mencatat keberadaan kerajaan ini di sekitar Jambi.
Yang aneh, tak pernah ditemukan bukti arkeologi pusat kota Melayu. Kompleks Muara Jambi memang besar, tapi apakah ini benar ibu kota Melayu atau peninggalan Sriwijaya?
3. Lambri
Nama Lambri sering muncul dalam catatan pelaut dari Dinasti Tang hingga pedagang Venesia. Kota ini dikatakan kaya emas dan jadi pelabuhan strategis penting.
Dugaan lokasi di sekitar Aceh Besar atau Pulau Weh. Namun tak satupun reruntuhan kota besar yang ditemukan hingga kini.
4. Pamotan
Ketika Majapahit runtuh, Pamotan disebut sebagai pusat kekuasaan terakhir. Beberapa sejarawan mengaitkannya dengan wilayah Rembang atau Blora.
Sayangnya tidak ada bukti arkeologi yang kuat. Tak ada candi, keraton, atau kompleks pemukiman yang bisa dipastikan sebagai Pamotan.
5. Siguntang Mahameru
Bukit Siguntang di Palembang dipercaya tempat turunnya nenek moyang raja-raja Sriwijaya. Ada megalit dan makam kuno, tapi kota besar tidak ada.
Di mana sebenarnya ibu kota Sriwijaya? Apakah masih terkubur di bawah rawa-rawa ataukah Sriwijaya memang lebih berupa jaringan pelabuhan?
Mengapa Kota-Kota Ini Hilang?
Empat faktor utama penyebab hilangnya kota-kota ini.
Pertama, bencana alam seperti gempa, tsunami, dan letusan gunung.
Kedua, faktor politik saat pergantian kerajaan yang menghapus jejak kekuasaan lama.
Ketiga, faktor budaya dimana masyarakat adat melarang penggalian situs keramat.