Ternyata Ada 5 Pulau Terkecil di Dunia yang Masih Dihuni Sampai Sekarang
- YouTube
Cianjur – Dari 100.000 lebih pulau di dunia, hanya sekitar 7.000 yang dihuni manusia. Di antaranya ada pulau-pulau super kecil yang ukurannya bikin kaget dan penasaran.
Pulau terkecil yang dihuni manusia punya cerita unik masing-masing. Beberapa bahkan cuma muat satu keluarga tapi tetap jadi daya tarik wisata dunia.
Kehidupan di pulau mungil ini penuh tantangan dari sumber air hingga ruang gerak. Mari kita jelajahi lima pulau terkecil yang masih ditinggali manusia sampai sekarang.
Siapa sangka ada pulau yang cuma seluas lapangan sepak bola tapi dihuni ratusan orang. Yuk simak kisah unik dari pulau-pulau mungil ini.
1. Pulau Migingo Uganda
Pulau Migingo adalah gundukan batu di tengah Danau Victoria dengan luas kurang dari setengah lapangan sepak bola. Meskipun cuma 2.000 meter persegi, pulau ini dikenal sebagai salah satu pulau terpadat di dunia.
Gubuk-gubuk seng berdesakan tanpa menyisakan ruang terbuka sama sekali. Kenya dan Uganda saling berebut pulau ini bukan karena daratannya, tapi karena perairan sekitarnya yang kaya ikan.
2. Pulau Panggang Indonesia
Pulau Panggang di Kepulauan Seribu Jakarta menjadi rumah bagi lebih dari 6.000 jiwa. Dengan luas hanya 9 hektar, pulau ini jadi contoh kepadatan penduduk luar biasa.
Hampir tidak ada ruang terbuka hijau karena setiap jengkal tanah dimanfaatkan untuk pemukiman. Meski begitu, di sana tetap ada sekolah, puskesmas, dan masjid lengkap.
3. Pulau Visovac Kroasia
Pulau Visovac terletak di tengah Krka National Park Kroasia sebagai situs biara Fransiskan sejak 1576. Pulau kecil ini menjadi tempat tinggal idaman bagi para biksu yang mencari ketenangan.
Di dalam biara terdapat perpustakaan dan museum dengan koleksi buku kuno serta manuskrip berharga. Dengan dinding kokoh dan menara lonceng, tempat ini cocok banget buat orang introvert.
4. Pulau Just Room Enough Amerika
Sesuai namanya yang berarti "pulau cukup satu ruangan", daratan mungil seluas 310 meter persegi ini hanya muat satu rumah. Keluarga Sizland membeli pulau ini tahun 1950-an untuk tempat peristirahatan privat.
Ironisnya, setelah membangun rumah dan menanam pohon, pulau mereka jadi terkenal dunia. Niat awal untuk mendapat privasi justru hilang karena perahu turis sering melintas melihat keunikan rumah mereka.