Bagaimana Jadinya Indonesia Jika Mohammad Hatta Jadi Presiden Pertama?
- YouTube
Cianjur – Sejarah Indonesia mencatat Mohammad Hatta sebagai wakil presiden pertama yang lahir di Fort de Kock, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902.
Bersama Soekarno, Hatta dikenal sebagai Dwitunggal dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.
Perbedaan latar belakang dan cara berpikir antara Soekarno dan Hatta sering memicu perdebatan politik yang alot.
Soekarno yang berlatar belakang Jawa Timur memiliki pandangan berbeda dengan Hatta yang merupakan orang Minang asal Sumatera Barat.
Momen mengejutkan terjadi ketika Hatta memutuskan pensiun dari politik pada 1956 akibat perbedaan pendapat dengan Soekarno. Meski demikian, keduanya tidak pernah saling menghina atau mencaci maki di hadapan publik.
1. Indonesia Akan Dekat dengan Amerika Serikat
Hatta cenderung memilih dialog daripada konfrontasi militer dalam hubungan internasional Indonesia.
Berbeda dengan Soekarno yang menggandeng komunis, Hatta justru akan bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menyingkirkan pengaruh komunis.
2. Bentuk Negara Federal Bukan Kesatuan
Konsep negara kesatuan merupakan gagasan Soekarno yang tidak disetujui Hatta. Hatta lebih mendukung sistem federal untuk menghindari konflik etnis dan menjaga stabilitas integritas wilayah Indonesia.
3. Komunis Diberantas Sejak Awal
Hatta tidak menyukai cara berpolitik komunis yang mengutamakan revolusi dan lebih menyukai sistem demokrasi berbasis koperasi.
Pertemuan rahasia di Sarangan 1948 membuktikan keseriusan Hatta untuk menyingkirkan pengaruh komunis dari Indonesia.
4. Tidak Ada Konfrontasi dengan Negara Barat
Hatta akan memilih kerja sama dengan negara barat untuk mengatasi krisis pasca kemerdekaan. Politik mercusuar Soekarno yang membuat mega proyek dan keluar dari PBB kemungkinan tidak akan terjadi.
5. Papua Barat Mungkin Merdeka Sendiri
Hatta lebih suka dialog dalam menyelesaikan masalah Irian Barat dibanding operasi militer Trikora. Kemungkinan Belanda akan memberikan kemerdekaan kepada Papua dengan status persemakmuran kerajaan Belanda.
Perbedaan pemikiran politik antara Soekarno dan Hatta menunjukkan kematangan berdemokrasi era awal kemerdekaan.
Keduanya tetap saling menghargai meski berbeda pendapat, tidak seperti politikus masa kini yang sering saling menghina tanpa substansi.