Mengapa Israel Terus Serang Suriah Padahal Ada Gencatan Senjata? Ternyata Ada Agenda Tersembunyi!
- YouTube
Cianjur – Konflik Timur Tengah memang tidak pernah ada habisnya. Kali ini, Suriah kembali menjadi sorotan karena serangan Israel yang terus berlanjut meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa hal ini bisa terjadi?
Situasi ini dimulai dari konflik internal di Provinsi Suwaida, Suriah. Wilayah yang mayoritas dihuni komunitas Drus ini mengalami ketegangan dengan suku Badui Sunni. Konflik sektarian ini kemudian dimanfaatkan Israel sebagai dalih untuk melakukan intervensi militer.
Israel mengklaim ingin melindungi komunitas Drus yang juga tinggal di wilayah Israel dan dataran tinggi Golan. Namun, banyak pihak menilai ini hanya kedok untuk agenda yang lebih besar. Serangan udara Israel terus menghantam berbagai target di Suriah, termasuk kompleks Kementerian Pertahanan di Damaskus.
Yang mengejutkan, meski pejabat Suriah dan pemimpin Drus sudah mengumumkan gencatan senjata, Israel tetap melanjutkan serangannya. Bahkan setelah pasukan Suriah mundur dari Suwaida sesuai tuntutan Israel, kekacauan justru kembali pecah dan Israel malah meminta pasukan keamanan Suriah kembali.
Suriah tampak tidak berdaya menghadapi agresi ini karena kekuatan militernya sudah dilumpuhkan sejak awal.
Sejak jatuhnya rezim Assad, Israel telah melakukan 987 serangan udara dan artileri serta menduduki 180 km² wilayah Suriah dalam 7 bulan. Depot senjata dihancurkan, jalur logistik diputus, sehingga kemampuan membalas serangan nyaris nol.
Sebenarnya, target utama Israel bukan sekadar melindungi komunitas Drus. Mereka mengincar wilayah strategis seperti dataran tinggi Golan dan Gunung Hermon.
Dengan dalih perlindungan, Israel ingin membentuk kantong sektarian baru untuk memecah belah Suriah dari dalam. Proyek ini dikenal sebagai "koridor David" untuk menggambar ulang peta Timur Tengah.
Ironisnya, komunitas Druze Suriah justru menolak dimainkan dalam agenda politik Israel. Para pemimpin Drus secara tegas menyatakan bahwa menentang rezim HTS bukan berarti mendukung normalisasi dengan Israel. Mereka menyerukan pemulihan hak-hak Suriah dan Palestina melalui diplomasi, bukan melalui campur tangan asing.
Reaksi internasional pun berdatangan mengecam tindakan Israel. Turki menyebut aksi militer Israel sebagai upaya sabotase terhadap kemerdekaan Suriah.