Kenapa Bulan Suro Dianggap Sakral? Ternyata Ada Sejarah Panjang di Balik Budaya Ini!

Ilustrasi Perayaan Bulan Suro
Sumber :
  • Pinterest

Cianjur – Pernahkah kamu mendengar tentang bulan Suro dalam kalender Jawa? Banyak orang menganggap bulan ini penuh misteri dan energi gaib.

img_title Rekomendasi 5 Aktivitas Seru di Jawa yang Bikin Liburan Makin Berkesan, Sudah Pernah Coba?

Namun, ternyata ada sejarah panjang yang melatarbelakangi kepercayaan ini.

Bulan Suro sebenarnya adalah bulan pertama dalam kalender Jawa yang diciptakan Sultan Agung.

img_title Fakta Menarik Suriname, Sebuah Negara Kecil di Amerika yang Penuh Nuansa Jawa

Kalender ini menggabungkan tradisi Islam dan budaya Jawa lokal. Hal inilah yang membuat bulan Suro memiliki makna spiritual yang mendalam.

Bagi masyarakat Jawa, malam Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun biasa. Malam ini dianggap sakral dan penuh berkah.

img_title Rahasia Kota Kuno Suku Maya di Balik Hutan Tropis Guatemala, Masih Menjadi Misteri?

Oleh karena itu, banyak ritual khusus yang dilakukan untuk menyambutnya.

Asal Usul Kalender Jawa dan Bulan Suro

Sultan Agung Hanyokrokusumo menciptakan kalender Jawa baru pada tahun 1633.

Beliau menggabungkan kalender Saka Hindu-Buddha dengan kalender Hijriah Islam. Tujuannya adalah menyatukan tradisi budaya Jawa dengan ajaran Islam.

Kata "Suro" berasal dari "Asyura" dalam bahasa Arab. Istilah ini merujuk pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam.

Dalam lidah masyarakat Jawa, kata Asyura kemudian diucapkan sebagai "Suro".

Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral?

Dalam Islam, bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci. Bulan-bulan ini adalah Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.

Al-Quran juga menyebutkan keistimewaan bulan-bulan ini dalam Surah At-Taubah.

Tradisi Jawa kemudian memperkuat makna sakral ini. Masyarakat percaya bahwa selama bulan Suro, tabir antara dunia nyata dan gaib menjadi tipis.

Karena itu, banyak yang melakukan ritual spiritual seperti tirakat dan semedi.

Tradisi dan Pantangan di Bulan Suro

Masyarakat Jawa memiliki berbagai tradisi khusus selama bulan Suro.

Mereka biasanya melakukan "jamas pusaka" atau membersihkan benda-benda pusaka.

Selain itu, ada juga tradisi "ruatan" dan "tapabrata" sebagai bentuk pembersihan diri.

Beberapa pantangan juga berlaku selama bulan ini. Masyarakat menghindari hajatan besar seperti pernikahan atau membangun rumah.

Mereka percaya hal ini bisa mendatangkan kesialan atau kegagalan.

Makna Spiritual di Balik Tradisi

Bulan Suro mengajarkan pentingnya introspeksi dan pembersihan diri. Konsep "eling" dan "waspada" menjadi pegangan utama masyarakat Jawa.

"Eling" berarti selalu ingat pada Tuhan dan posisi kita sebagai ciptaan-Nya.

Halaman Selanjutnya
img_title